December 2014
M T W T F S S
« Feb    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  
Categories
Archives

ninja zx 250r

1356537p Secara tampilan dan kapasitas mesin, Kawasaki Ninja 250R sudah mengarah ke motor gede atau moge. Nah, kebetulan ada yang punya produk Jepang ini dan ingin memodifikasi seperti moge. Dia adalah Loe Robin dari X-Bike, yang memberikan trik pada “Kawak” Ninja 250R 2008. Limbah yang digunakan terutama bersistem plug and play.

“Jika pakai limbah, maka usahakan seminimal mungkin melakukan ‘perusakan’ bawaan aslinya,” pesan Robin. Maksudnya, jangan sampai banyak bagian yang dirombak hanya karena ingin pakai limbah dari moge, apalagi sampai harus memotong rangka.

Kembali ke sistem plug and play tadi, mari kita lirik peredam kejut depan. Robin sengaja memilih model upside down dari Suzuki GSX600 karena as komstirnya sama persis.

Lengan ayun standar diganti model tunggal. Banyak pilihan ditawarkan, tetapi Robin menyarankan untuk memakai punya Honda RVF 400. Alasannya, ubahan yang perlu dilakukan hanya sedikit. Kemudian, lengan tunggal ini bisa dikawinkan dengan peredam kejut standar. “Selain cocok, juga lebih empuk dan nyaman,” ujar Robin.

Saat pemasangan, memang ada ubahan atau penyesuaian. Menurut Robin, hanya ada proses bubut kurang dari 1 cm, itu pun di arm. Dengan begitu, ketika bosan, dia tidak sulit untuk mengembalikannya ke kondisi standar.

Untuk velg, dia memilih punya Ducati 748 dengan pertimbangan tanpa merusak tadi. “Velg ini lebih lebar dibanding punya RVF atau GSX600. Tapi, kala dipasang, gampang,” bilang pemilik bengkel di kawasan Jakarta Barat ini. Kedua velg dibalut ban bertelapak 3,5 inci (depan) dan 5,5 inci (belakang).

Sementara itu, bodi hanya mendapat sedikit sentuhan. Namun, biayanya lumayan mahal karena untuk beberapa bagian, dia menggunakan bahan serat karbon (asli). Misalnya, di bawah jok dan sekitar spidometer. Pemakaian serat karbon itu menghabiskan dana Rp 3 juta. Untuk ubahan yang lain, Robin tidak membocorkan biayanya.

Pengaplikasian Velg Lebar pada ZX 130

    Buat yang ingin tampilan kaki kaki ZX 130 nya lebih keker, bisa memakai Velg Merk Sprint yang untuk Tiger, dengan lebar 2,5″ depan dan 3″ belakang, setiap pembelian velg ini sudah berikut klaher depan belakang jd ga perlu beli lagi. sebenernya bisa pake velg merk lain, cm menurut gw Velg ini lebih enteng dan lebih murah, gw beli waktu itu 550rb, coba bandingkan dgn merk power dan sejenisnya yang harganya 1jtan lebih dan lebih berat.

    part lain yg perlu dibeli :
    – Gear Gl Pro (70rban)
    – Rumah Kabel speedometer Supra (20rban)
    – Gear Nanas speedometer Supra (20rban)


    yg optionalnya :

    – Disc Depan Tiger plus Breket sekitar 400rb
    – Ban depan lebar min 100-xx-17
    – Ban belakang lebar min 110-xx-17

    kalo bisa bannya juga diganti, karena kalo masih ban standar takutnya ga muat, karena velgnya lebih lebar.

    Yamaha Jupiter MX 135LC Jadi Motor Sport untitled

    untitled

    Yamaha Jupiter MX 135LC ini memng unik sampai sampai orang sulit menebak motor apa itu? Kalaupun dapat menangkap logo di tangki bensin, Anda pasti menyebut Yamaha. Betul sekali, tapi Yamaha apa? Terkaan Anda, paling Yamaha V-ixion lantaran tangkinya.

    Memang sang pemilik yang memodifikasi motor ini memakai tangki Yamaha V-ixion. Sesungguhnya, basis motor ini adalah jenis bebek dari Yamaha Jupiter MX 135LC, dan untuk mengubah jenis kelamin motor ini, Irfandi enggak banyak pakai limbah moge atau potong sasis sana-sini.

    Kaki-kaki asli
    “Rangka enggak ada yang dipotong-potong, aslinya masih dipertahankan,” sebut builder dari Pontianak, Kalimantan Barat. Cukup bermain dengan bahan fiber, bagian belakang dibikin menungging, plus bodi tambahan. Jadi, kalau ingin balik ke standar, bisa dengan mudah dilakukan.

    Bagian depan dipoles jadi kekar. Seperti sokbreker asli, bagian itu diganti dengan Ohlins Thailand, termasuk piringan cakram diganti yang lebih besar dan model racing. Untuk lampu utama bukan variasi, melainkan diambil punya Suzuki Spin 125.

    Sosok motor jadi kekar, selain karena tangki, juga karena adanya penambahan deltabox. “Ini pakai limbah Aprilia, tapi tanpa merusak bodi karena prinsipnya bolt on, Pemasangannya pun tidak sulit, hanya mengandalkan dua baut, satu di atas dan satunya di bawah. Posisinya pun masih menggunakan lubang baut asli (untuk yang di kanan) karena yang atas memanfaatkan lubang kunci kontak dan bawahnya dari baut footstep.

    Untuk sektor kaki-kaki, Irfandi masih banyak memakai aslinya, kecuali yang depan, pakai Ohlins, sedangkan lengan ayun masih standar. Menurut Irfandi, bagian itu hanya ditambahi pelat terutama buat bagian dudukan bawah shock. Sementara itu, monoshock bawaan standar masih dipertahankan.

    Lantaran sudah ganti kelamin, telapak ban mau tak mau pakai yang lebih lebar. Roda depan pakai ukuran 2,15 inci, sedangkan belakang 3,5 inci dengan lingkar 17 inci. Peleknya dipilih variasi dari Tiger bermerek Sprint.

    Knalpot MIO bosa berputar bagaikan senapan Gatling

    mkuntitled

    Untuk dipakai harian, tampilan Yamaha Mio Sporty dari Purwokerto ini kurang enak dilihat. Modifikasinya terkesan tanpa konsep dan kelihatan ramai. Siswo Winoto, builder dari Win’s Paddock, Purwokerto, Jawa Tengah, seperti kehabisan ide kala menggarap skutik Yamaha produksi 2008 ini.

    Pasalnya, sejal awal eksperimen pada Mio ini, ia justru ingin lepas dari aliran low rider dan hotrod. Kenyataannya, “Aku coba gabungkan konsep low rider dan hotrod. Jadinya matic fighter,” ungkap Win, panggilan akrab Siswo Winoto.

    Matic fighter karya Win tak bisa dibilang sebagai terobosan karena hasilnya mirip dengan streetfighter. Apalagi, di sini ditonjolkan pemangkasan sasis, dan tinggal 30 persen kerangka asli yang dipertahankan, termasuk komstir sampai down tube.

    Untuk kerangka model teralis dari Ducati Monster yang ditransformasi ke skutik ini, Win menghabiskan pipa total 9 meter dengan diameter yang berbeda. Untuk kerangka utama, ia memakai pipa ukuran 3,4 inci sepanjang 4,5 meter, sedangkan untuk penyangga, ia menggunakan pipa 1,5 inci.

    “Habis pipa sekitar 9 meter. Semua dibikin saling menunjang. Termasuk penunjang sokbreker belakang, itu harus hati-hati,” ujar Win. Ia melanjutkan, jika salah konstruksi, pipa penahan beban dari sokbreker itu bisa bengkok.

    Untuk finishing, bolehlah proses ini dikasih acungan jempol. Detail dan komposisi warna diracik apik. Namun, akan lebih menarik jika sumbu roda tidak mundur berlebihan, dan pemakaian setang tidak terlalu lebar.

    Kendati begitu, ada yang menarik saat motor ini mengeluarkan asap. Ujung knalpot dengan beberapa lubang kecil—mirip senjata otomatis—akan berputar. Boleh juga, tuh.

    Honda Revo

    untitled

    Ketika memperkenalkan Honda Absolute Revo 110 CC di FX Sudirman, Jumat (29/1) PT Astra Honda Motor (AHM) selaku agen tunggal pemegang merek motor Honda tak cuma memajang beberapa unit dari tiga varian sebagai varian baru, yakni Spoke, Casting Wheel dan Deluxe Casting Wheel). Ada dua unit Alsolute Revo yang sudah dimodifikasi ikut dipajang, yakni Revo Sporty Hitech dan Revo Luxury VIP yang telah mengundang perhatian wartawan.

    “Kedua Honda Absolute Revo 110 cc ini dipermak oleh tim Honda Research & Development South East Asia (HRS),” bilang Reza Goduan Parulian, selaku Styling Designer sekaligus supervisi dalam menggarap proyek yang menghabiskan waktu hampir 3 bulan.

    Sebelum memoles motor, terlebih dulu dibuatkan gambar yang kata Reza butuh waktu sebulan. “Sedangkan proses penggarapan berlangsung sekitar lima minggu dan dari kedua motor itu masing-masing dikomandoi oleh satu orang,” tegas Reza.

    Untuk biaya modifnya, lanjut Reza, Revo Hitech menghabiskan sekitar Rp30 juta, sedang Luxury sekitar Rp20 juta. “Namun modifikasi ini sebagai referensi saja, makanya bentuk asli motor masih kuat,” papar Reza.

    Pantas bila Absolute Revo Sporty Hitech paling mewah. Tapi paling menarik dari modifikasi ini adalah desain knalpotnya. Baik yang Hitech maupun Luxury dirancang gaya moge. Modelnya tidak lagi panjang, tapi pendek dan desainnya trapesium, bukannya bulat atau lonjong.

    Paling mewah dari kedua model ini yang Sporty. Kedua pelek yang superlebar bikinan sendiri, termasuk desain jari-jarinya. Kesan sebagai motor bertenaga kencang dipancarkan lewat penghenti laju, baik depan maupun belakang sudah menganut sistem rem cakram. Kemudian suspensi standar diubah modelnya menjadi monosok.

    Tak cuma itu, lengan ayun standar dikasih kondom (dibungkus) model ganda membuat tampilan bebek tambah kekar. Lalu, bagian tertentu dari bodi dibikin motif kevlar seperti bagian tengah motor, sepatbor belakang dan sebagian sepatbor depan, bagian dalam sayap, batok lampu dan pegangan (bagian belakang jok). Trus, grip pada setang juga diganti dan dikasih ujungnya dikasih penyeimbang.

    Pada bagian luar sayap dikasih dua lampu kecil, salah satunya berfungsi sebagai lampu sein. Sayangnya, footstep masih standar dan pijakan kaki buat pebomceng tidak ada. Termasuk juga pada model Luxury. Bisa dimaklumi, namanya juga modifikasi buat referensi.

    Sementara pada model Luxury, sistem suspensi masih merujuk pada standar. Hanya sudut kemiringannya sudah diubah lebih ke depan dan memakai model gas. Selain knalpot yang pendek, hal menarik lainnya pijakan kaki buat pengendara dibikin lebar. Sepatbor belakang dirancang model motogp. Sangat pas dengan pelek palang enam.

    vario

    untitled

    Ada yang menarik dari penampilan Honda Vario dari Bandung, Jawa Barat, ini. Bukan karena warna bodi yang blink-blink (kinclong) yang digandrungi penganut low rider di Amerika, atau roda belakang sampai mundur 20 cm lantas pakai ban besar serta knalpot gambot. Justru bukan itu keistimewaannya.

    Skutik buatan 2006 ini bisa naik turun seperti yang kebanyakan dilakukan pemodifikasi mobil. Skutik bisa begitu lantaran sang modifikator menginstalasikan sistem suspensi udara pada sokbreker depan dan belakang.

    “Ini hasil riset kami sejak 2004,” ungkap Geri Turga dari bengkel MotorPop di Jalan Pasirkumeli, Cimahi, Jawa Barat. Rumah modifikasi ini memang melakukan pengembangan berbagai model sistem suspensi udara.

    Seperti Anda simak pada shock belakang, yang asli Vario hanya satu, tetapi jadi terpasang dua. Menurut Geri, peredam kejut ini buatan sendiri, menggunakan pelat setebal 3 mm. Bagian dalam dipasang as dan sil hasil karya mereka. “Untuk as shock menggunakan besi diameter 12 mm, sedangkan sil memakai ukuran diameter luarnya 56 mm,” papar Geri yang menyebutkan bahwa jarak main shock belakang bisa sampai 15 cm.

    Untuk shock depan, lanjut Geri, bagian as dibubut ulang dan ketebalan sil ditambah jadi 1,5 cm. Soal desain bagian dalam, Geri tampak sedikit merahasiakannya lantaran mereka memasarkan sistem ini. Konon, satu setnya dilego Rp 8,5 juta.

    Sama seperti mobil, menaik-turunkan shock dibutuhkan udara yang dipasok lewat kompresor. Di sini, Geri mengandalkan kompresor DC Volcano berkemampuan 8 bar. “Jika kurang dari 8 bar, naik-turun lambat dan tidak bisa sampai setinggi 15 cm,” paparnya. Untuk mengaktifkan kompresor, mesin motor harus hidup lantaran dari sanalah sumber listriknya.

    Selain suspensi udara, ada satu lagi yang membuatnya menarik. Hanya perlu ketelitian untuk mengetahuinya. Apa itu? Sejumlah baut mengalami gold platting atau pelapisan emas. “Kami pakai emas yang 17 karat

    TIGER modif Pake Limbah atau Aftermarket


    Bagi banyak orang modif dimulai dari tampilan. Sengaja demikian karena lebih mudah terlihat. Tampilan tersebut menyangkut body, sasis, stang, maupun ajrutan (kaki-kaki). Body bisa dicat-ulang agar lebih manis. Klir disesuaikan atau diberi sentuhan finishing yang lebih semarak. Bagi sebagian lagi, dimulai dari mesin dan sasis. Gunanya untuk meningkatkan kecepatan sekaligus memperbaiki pengendalian (handling).

    Pertanyaan selanjutnya, dengan apa modif dilakukan. Apakah perlu menggunakan libah motor gede (moge) ataukah cukup menggunakan perangkat aftermarket?

    Bagi kebanyakan pemula, modifikasi dimulai dari barang-barang aftermarket. Di samping lebih murah, juga lebih mudah didapatkan, dan yang paling penting gampang dicicil satu persatu.

    Dalam kasus Indonesia, barang-barang aftermarket berkualitas masih relatif sulit ditemukan apabila dibandingkan dengan aftermarket yang berkualitas. Rata-rata barang yang ada di pasaran berasal dari Thailand, Taiwan, dan China. Dengan modal meniru berbagai komponen versi motor buatan Jepang atau Italia yang lebih bermutu, pasar modifikasi kita dibanjiri berbagai perangkat pemanis motor.

    Di negara seperti Thailand, hampir seluruh modifikasi didasarkan pada barang aftermarket. Demikian pula halnya di Eropa dan Amerika Serikat. Pertumbuhan industri manufaktur otomotif sudah sedemikian pesat sehingga hampir setiap tipe motor yang baru juga disertai versi upgrade modifikasinya. Di samping itu kultur industri otomotif di negara-negara tersebut membuat orang lebih nyaman dan cepat untuk memasang perangkat aftermarket yang tersedia di mana-mana daripada harus berburu limbah dan menunggu modifikasi selesai.

    Bagi yang tidak puas dengan barang aftermarket sehingga ingin memodifikasi secara ekstrim, kebanyakan bikers berusaha mengaplikasikan limbah moge di besutannya. Keuntungan aplikasi perangkat moge, seperti garpu sok depan, swing arm dan sok set, hingga body set, memberikan tampilan lebih kekar dan stylish. Bahkan tidak jarang, limbah memberi keuntungan lebih dari sisi kekuatan dan kenyamanan.

    Banyak limbah yang tersedia di pasaran saat ini untuk diaplikasi pada motor-motor sport turing seperti Tiger, Scorpio, atau Thunder. Yang sedang banyak dipasaran adalah limbah Aprilia rs 125, Cagiva Mito, Honda NSR Hornet, Suzuki GSX® 400, Honda CBR 400, Yamaha TZM, Yamaha TZR.

    Total biaya untuk menebus limbah saja rata-rata dibutuhkan 5-7 juta. Dengan memasukkan unsur pemasangan, setting dan balancing ulang, serta ongkos pernak-pernik untuk merapikan modifikasi, maka biaya modifikasi dengan limbah bisa membengkak menjadi 7-10 juta.

    Jika butuh yang lebih berkelas bisa juga mengorder limbah Aprilia RS 250, Honda RVF/VFR, bahkan Ducati versi Massimo Tamburini. Biaya pembelian limbahnya saja bisa mencapai 12-15 juta. Tambahkan ongkos pasang/setting, dan pengrapian di sana-sini. Total biaya bisa mencapai 17 juta. Hanya saja limbah jenis ini harus special order karena tidak banyak tersedia dipasaran.

    Menyangkut tempat modifikasi sangat bergantung pada komponen yang digunakan. Biasanya modifikasi barang aftermarket bisa dilakukan oleh montir semi profesional di bengkel-bengkel asesori motor. Ini mengingat aftermarket biasanya sejak awal dimanufaktur sesuai setting standar motor yang beredar dipasar.

    Sebaliknya untuk pemakaian limbah moge, hampir dipastikan harus dilakukan dibengkel/workshop modifikasi. Sebab setiap limbah memiliki karakteristik yang belum tentu langsung padu dengan motor yang ingin dimodif. Karena itu, modif limbah lebih banyak memasukkan unsur kreasi seni bersama-sama dengan kemampuan mekanis sang modifikator. Slamat mencoba. “Inga-inga, sekali terjangkit virus modif, menghentikannya harus dengan jual motor.”

    ninja 150 r comot body ninja KRR

    1565ninja-apoh-axl-1.jpgApa jadinya kalau Budi Udin Fakkar (Jatayu Motor Sport) dan Ayung Zulkarnain (Mosbi) ngamuk? Keduanya dikenal sebagai pemain lama modif, makanya bisa dibilang pendekar. Pendekar modifikasi yang sama-sama tinggal di Angke, Jakarta Barat. 1566ninja-apoh-axl-2.jpg

    Budi Jatayu ngelotok soal kaki-kaki sedang Ayung punya jurus piawai menangani bodi. Makanya, Ninja pek go saya ditangani dua modifikator ini,” jelas Phang Sui Po alias Apoh yang sudah lama mengamati karya dua pendekar modif senior itu.

    Akhirnya proses pengerjaan dibagi dua. Budi fokus kaki-kaki, sementata Ayung menggarap bodi. “Kebetulan lagi jarak kedua rumah modif itu dekat dari rumah. Jadi gampang dipantau saat pengerjaan,” beber Apoh yang juga berdomisili di kawasan Angke.

    1567ninja-apoh-axl-3.jpgBerbekal limbah moge CBR 400 roda depan dan belakang dibuat jadi lebih berotot. “Kaki-kaki CBR400 dimensinya enggak kegedean alias cocok buat Ninja 150 yang bersasis tubular,” jelas Budi yang berbadan kekar lantaran rajin fitnes.

    Meski suspensi depan belum caplok model upside down, toh tetap bikin Ninja 2-tak ini tampil garang. “Paling sip desain lengan ayun belakang yang sudah melengkung alias model banana,” bangga Apoh yang pendekar, eh juragan konveksi ini.
    1568ninja-apoh-axl-4.jpg
    Beres kaki-kaki, motor langsung diboyong ke Bengkel Mosbi milik Ayung di Gg. Bakso. Modifikator berambut gondrong itu langsung menyulap buntut Ninja jadi CBR400. “Ekor dibuat lebih lancip dengan jok yang dipasang terpisah,” jelas Apoh.

    Enggak hanya itu Ayung juga sedikit touch up bagian fairing bawah. “Ujung fairing ditambah serat fiber sampai menutupi lambung knalpot,” terang pria berkacamata ini sambil menunjuk bagian bawah bodi.

    Proses finishing juga dikerjakan Ayung. Warna baru yang dipilih perpaduan antara biru dan putih. “Untuk padu padan kelirnya, semua saya serahkan langsung ke Ayung,” tutup lajang 31 tahun ini tidak sambil ikutan ngamuk.

    SUSPENSI BELAKANG NINJA

    Semula Apoh keukeuh pasang suspensi belakang limbah CBR400. Tapi setelah coba dipasang, bagian belakang motor jadi lebih tinggi. “Cingkrang dan enggak enak dipandang,” terang Apoh.

    Solusinya, Budi tetap pasang monosok belakang Ninja. Tentunya untuk ngejar posisi motor agar tetap proposional. Pendekar dilawan!

    SEPATBOR DEPAN CUSTOM

    Menurut Apoh, sepatbor depan standar nggak cocok lagi bersanding dengan sok depan CBR400. Berhubung harga orisinalnya mahal, oleh Ayung diakali pakai fiberglass. Meski nggak ori alias orisinal, tampilan sektor depan Ninja jadi lebih berisi.

    DATA MODIFIKASI

    Ban depan : Batlaxx BT92/60/17
    Ban belakang : Batlaxx BT39/70/17
    Footstep : Arachnid
    Sepatbor depan : Honda CBR400 Custom
    Setang jepit : Honda CBR400
    Pelek depan & belakang : Honda CBR400

    Yamaha V-ixion Jadi Berotot dan Kekar

    //

    Sekalipun sudah kurang produktif, tapi dalam memodifikasi motor, karya Aming Ali Warga masih tetap diperhitungkan dan bikin mata melotop. Lihat saja hasil tangan terampilnya pada Yamaha V-Ixion yang beraroma muscle bike ala streetfighter ini. Sangat tidak mudah memadukan estetika itu.

    Di sini Aming perlu meramu dan mempertajam estetika customized yang dimulai dari bodywork model Yamaha TZ125 dipadu moge Yamaha R6, sekalipun minimalis. “Kami perlu merehab sasis di main frame kamuflase ala TZ125,” ujar sang builder. Sedang untuk sub frame diarahkan Aming ke R6.

    Sebagai penyesuaian, dimensi dan lengan ayun pakai produk Italia. Yang dipilih Aming, Aprilia 250 Diablo. Sementara sistem sok belakang yang udah diubah jadi mono memakai merek Ohlins.

    Dari sini bentuk sudah mulai tampak. Untuk mengentalkan streetfighter, agar T bagian atas dan bawah jadi lebar diadopsi dari Suzuki GSX600 lengkap dengan sok upside down.

    Konsep yang dimaui Aming sudah dapat dan tinggal bermain detail. “Jangan sampai khas LM (Laksa Motor) hilang, maka masukan dari LM mulai diterapkan,” sebut sang builder yang tidak bisa dipisahkan dari rumah modifikasi Laksa Motor.

    Lihat batok lampu depan merupakan khas LM untuk menopang lampunya dari FZ1000 orisinal. Pertimbangannya, konsep mendekati streetfighter tadi bakal digembungkan desain batoknya. Apalagi kaki-kaki sudah kekar dengan pelek pakai Honda CBR600 palang enam untuk depan dan belakang.

    Desain khas LM lainnya, tampak pada tutup cover mesin dan jok belakang yang mungil model single seater. kesan modern dan futuristik tampak pada spidometer model digital Koso, kemudian knalpot memakai silincer bikinan Akropovis titanium karbon model oval, dipadu pijakan kaki dari Yoshimura. Master rem belakang dicomot dari Nisisin plus kaliper Honda CBR400 Fireblade, sedang depan Nissin dari CBR1000 Fireblade.

    Di sini Aming tak ingin menghilangkan total ciri Yamaha V-ixion. Seperti lampu sein standar tetap dipakai. Hasilnya, motor milik Hansye ini pantas disebut Naked Streetfighter.

    mio sport

    Modifikasi tak ada matinya. Tidak terkecuali dari kota Sidoarjo, Jawa Timur. Kali ini  menampilkan kreasi Budi Widanarko, yang mampu menyulap Yamaha Mio 2007 jadi tampil baru lebih gaya. Dalam modifikasinya, builder dari Venus Customized itu mengusung konsep racing look. Ini seolah melawan arus, ketika di Jawa Timur lagi demam modifikasi gaya drag look dan low rider.

    Sekalipun perombakan yang dilakukan Budi pada Yamaha Mio 2007 sebatas fashion, banyak ornamen balap yang melekat. Paling menonjol, kedua ban memakai jenis slick (tanpa kembangan).

    Kemudian suspensi depan yang dipermak model upside down sehingga menjadi lebih panjang dan besar. Boleh jadi ini skubek ayam jago pertama dibuat di Sidoarjo. Malah menurut Budi, soknya itu custom sendiri memakai punya variasi Mio. “Bawahnya masih pakai punya Mio, sedang atas dibungkus semacam kondom dengan pipa 2 inci. Untuk finishing-nya dikrom,” ujarnya.

    Supaya mendekati tampilan motor balap, di atas dek bagian tengah dibuat stabilizer rangka. ‘’Hanya sebatas untuk tampilan, enggak berfungsi layaknya di balap,’’ terang Budi.

    Bagian belakang juga ikut dirombak. Seperti monosok, punya MX ditempelkan di Mio. Jok di-custom agar bisa menyimpan aki sehingga orang mengira enggak ada akinya.

    Agar membuat tampilan motor sesuai dengan konsepnya, cover CVT dibikin model berlubang (ditambahkan lagi) biar kelihatan heboh. Langkah berani Budi ini mengandung risiko besar bila dipakai untuk harian. Karena CVT harus bebas debu, oli, dan air. Tapi, sekali lagi, Budi ingin menampilkan Mio hasil karyanya yang bersih. Makanya, banyak bagian yang dikrom.